~¤(Untuk Para Pencari RidhoNya)¤~
Lagi-lagi aku dapat nasehat dari nuraniku.
"Kerjakanlah sesuatu dg kebenaran yg sesungguhnya dan jangan mengharap keridhoan manusia, karena yg demikian itu dapat mengurangi kualitas hasilnya."
Ikhlas karena allah ta'ala adalah suatu tuntunan yg menghasilkan pahala dan keridhaan Tuhan Pencipta Alam Semesta.
Bahkan dalam nilai-nilai sosial, setiap agamapun menyuruh umatnya agar melakukan sesuatu kebenaran tanpa harus mengharapkan aplos ataupun pujian dari orang lain. Dalam kitabnya umat Kristiani (Injil) memberikan nasehat, menurut kolose 3:23, "Manusia harus bekerja 'seperti untuk Tuhan' karena Tuhanlah yg akan memberi upah" (ayat 24). Kita harus dikenal sebagai pekerja keras yg tak kenal lelah dalam mengerjakan kebaikan (2 Tesalonika 3:6-15). Jelas, semua agama mengajarkan umatnya agar ikhlas dalam mengerjakan sesuatu. Kitapun yg mengaku sebagai umat Muslim dapat mengambil nilai-nilai sosialnya.
Memang, dalam suatu pekerjaan atau usaha harus ada pengharapan. Namun pengharapan itu tidak diharuskan dari manusia ataupun makhluk lain. Seorang penyair inggris 'Samuel Tailor Coleridge' pun menuliskan hubungan antara pekerjaan dan nilainya, bahwa: "Pekerjaan tanpa pengharapan bagaikan minuman lezat dalam saringan, dan pengharapan tanpa suatu tujuan tak ada artinya."
Seseorang yg melakukan sesuatu karena hanya mengharap ridhoNya, adalah disebut suatu perbuatan baik (amal sholeh). Maka, tujukanlah harapan itu karena Allah semata,
=> "...Barang siapa yg mengerjakan amal sholeh, laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yg baik." (An-Nahl: 97)
=> "Dan barang siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya". (Az-Zalzalah: 7)
** Yg demikian itu pula adalah salah satu wujud sikap dalam menyeimbangkan hidup di dunia & akhirat...
=> Dari Annas r.a. berkata, "Bukanlah orang yg baik di antara kamu orang yg meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar kepentingan akhirat, atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia, sehingga dapat memadukan keduanya. Karena kehidupan di dunia mengantarkan kamu menuju kehidupan akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban orang lain". (HR. Ibnu Asakir)
~¤(Luapan Marhabah Rindu)¤~
"Ya Hakam, Ya Hakim. Yg Maha Memutuskan, Yg Maha Bijaksana. Segerakanlah bahagiaku dalam dada ini. Bukan aku meminta, tp karena rindu ini terus menyapa untuk bertaut dengannya."
aQ brdo'a dlm diam & ktnangn yg tlah d proleh skian lma. Bukn aQ tk sabar, namun ksabarn jga da bats'y. & aQ tw itu, tw pula bhwa hsil & upah dr ksabarn i2 tiada bats'y.
Smoga ia pula m'manjtkn do'a yg lbih khusyuk, mlbihi hari2 sblm'y. Nmun ttaplh dy prmpuan biasa, bgitu prasaan'y, bukn Rabi'ah Adawiyyah yg mmpu m'nyrahkn total rindu'y pd k'agungn Illahi, bukn krna apapun d dunia ini, bhkn jga bkn krna surga atw nraka.
"Ya Bashir, Ya Basith. Yg Maha Melihat, Yg Maha Melapangkan. Adakah tanda-tanda yg selalu hadir di depan mataku ini hanya semata bagi rindu abadi. Jika apa yg telah terjadi selama ini merupakan bagian rahasiaMu, beri aku setitik ilmu untuk membuka atau menutupnya."
Do'aQ kpdaMu untk'y srasa angin tduh yg brhmbus k mna sja & dr mna sja arah'y. Angin rindu m'mang bgtu. Sypa mkhluk brjiwa d jagat ini yg tk mrindukn tuhan'y. Bhkn, para 'filsuf' yg brknar klo Tuhan Tlah Mati boleh jd krna mrka ga2l & ptus asa m'mhami Sang Maha Misteri.
Mka, dngr jga kisah 'Qais jd majenun', trombang ambing angin d gurun sahara antra ada & tiada krna rindu yg mnyala.
Mka, dtnglh d antra rinduQ, prantara abadi yg slalu m'bri & m'bcakn ayat2 k'indahn dlm da2Q. K'indahn jagat raya yg trs brgrak & brgrak mnuju smsta Yg Maha Memulai. Dan d antra grak yg satu dg grak yg lain, trbntang jrak brnma 'rindu'. Dan d antra dua rindu sllu ada prantra yg m'prtmukn. M'prsatukn & mnyatukn antra tbuh & ruh, antra lahir & batin, antra akal & pikiran, & suara hati trdalm. Smpai chya brsinr spnjang siang & malm, dlm ksunyian maupn d tngah kramaian. Mnyalakn marhabah rindu. Mnrangi yg satu.
~¤(Belum Ada Judul)¤~
Palingkanlah wajahmu ke kanan ketika keadaan semakin runyam di hadapn. Karena sesungguhnya kanan itu tempat yg baik untuk mengadu. & jangan sekali-kali menoleh ke kiri, karna syaithon itu sangat memikat hati. Bersabar dalam berikhtiar itu adalah terbaik buat umat 'Muhammad'.
Lihatlah semua orang dari sisi kebnarannya & pilihlah mana yg paling benar, jika kamu ingin medapatkan sesuatu yg benar. Namun janganlah kamu membanding-bandingkan kejelekan seseorang dari sudut pandang yg berbeda, karena sesungguhnya kejelekanmulah yg akan nampak.
Ingt firmanNya:
"Wanita-wanita yg keji adalah untuk laki-laki yg keji, & laki-laki yg keji adalah untuk wanita-wanita yg keji pula, dan wanita-wanita yg baik adalah untuk laki-laki yg baik, & laki-laki yg baik adalah untuk wanita-wanita yg baik pula..." ~¤(QS. An-Nuur: 26)¤~
~¤(Bukan Luka Biasa)¤~
Kenyataan yg selalu menghantam kerasnya tekad tuk berjalan.
Sedemikian pedihnya menanggung cerita yg tak kunjung ku sudahi. Ingin berlari & menari di atas hitungan hari. Namun itu hanya sekejap ku temui, hanya bualan halusinasi. Karena memang seutuhnya diriku makhluk yg tak punya reputasi. Harus terus merangkak di tengah riuhnya angin surga fana.
Jenuh,, jenuh,, dg keluh yg tak kunjung sembuh. Luka,, luka,, dg sikap & kebodohanku.
Terima aku wahai bumi. Jangan biarkan sesak terus menekan dada. Kapan ku mampu berjalan, jika beban ku rasa tak sepadan. Ku tahu Tuhan ada, ku yakini Tuhan tak kan membrikan beban melebihi kemampuan & ku tahu ini hanya semntara. Namun bagaimana ku mampu melewati..?? Bersabar,, Bersabar & terus bertafakur,,, jawaban ampuh & akupun tahu itu. Tapi ini kronis, bukan luka biasa atau luka putus cinta. Tidak mudah mengungkapkan luka apakah ini, yg pasti bukan luka putus asa. Hanya Kau maha tahu & ku kan tetap menunggu bersama nasehat lama itu...
Semoga semua ini hanya sebuah irama. Bukan karma atas derita lama.
~¤(Hanya aku & Tempatku yg Tahu)¤~
Tempatku bukan tempat yg indah tuk benaung, karena tempatku kumuh.
Tempatku bukan tempat yg kokoh tuk bersandar, karena tempatku tempat yg rapuh.
Tempatku bukan tempat yg aman tuk bersembunyi, karena tempatku tak beratap rapih.
Tempatku bukan tempat yg bersih tuk beristirahat, karena tempatku tak beralas keramik.
Tempatku bukan tempat yg luas tuk berkumpul, karena tempatku 1 meter persegi.
Tempatku bukan tempat yg nyaman tuk bersantai, karena tempatku tak semegah rumah mewah.
Namun, tempatku adalah tempat untukku hidup & hidup di kemudian. Tempatku adalah tempat menyimpan mimpi. Tempatku di tepian jurang. Tempatku di sebrang lautan. Tempatku di atas bebatuan. Tempatku di ujung jalanan.
Hanya aku & tempatku yg tahu siapa yg bertamu & siapa yg bertemu & mungkin kan ku tunggu karena memang tempatku tak begitu jauh, karena memang tempatku tempat yg selalu mengharap.
Hanya aku & tempatku yg tahu,,
seperti itu & memang harusnya begitu. Tak seperti dulu yg t'lah berlalu...
Kini aku & tempatku tahu, mungkin kan tetap seperti itu. Seperti bumi menanti hujan di musim gugur.
Hanya aku & tempatku yg tahu,,
Ku serahkan, ku pasrahkan... Dg sedikit harapan, dg selembut tautan... Biar berdawai, bergetar & berirama, seperti nada-nada sendu kala pesona beradu. Seperti itu, seperti aku. karena memang hanya aku & tempatku yg tahu.
“Ya Allah, berikanlah cinta-Mu kepadaku & tempatku, Jadikanlah orang yang mencintai-Mu mencintai aku & tempatku. Dan jadikanlah aku mencintai segala sesuatu yang membawa kepada kecintaan-Mu!”
Dg penuh pasrah.....
Seharusnya tempatku tak boleh menyiksaku. Tak seharusnya pula ia memberi Kecewa pada batin yg merana. Tapi mengapa kali ini amat sangat tak kuharapkan. Bagai gersang pelatar Taman yg telah lama ditinggalkan usang. Merobek lembar masa Harapan untuk suatu sesalan kekecewaan yg senantiasa kelam, terpendam & terkuakkan.
Dg rasa resah.....
Seharusnya tempatku ini teramat Romantis menyapa sebuah harapan. Karena t'lah ku curahkan tangis kebahagiaan bagi para Bidadari Taman. Tak seharusnya tempatku ini mendilemaku dalam keresahan. Bila cengkrama para penghuni Taman bersintesa sebuah harapan. Tetapi semua impian Kalbu begitu terasa jauh dalam bayangan. Memupuk subur dilema kegelisahan menumbuhkan kebencian. Curahan pilu semakin menggoreskan Retakan luka yg berdebu. Perlahan merontokkan Kebahagiaan & Bergugur satu demi satu.
Namun, karena hanya aku & tempatku lah yg tahu....
{Iwan S. Adib Adwa' Al-haziq}
Tidak ada komentar:
Posting Komentar