"Ya Hakam, Ya Hakim. Yg Maha Memutuskan, Yg Maha Bijaksana.
Segerakanlah bahagiaku dalam dada ini. Bukan aku meminta, tapi karena rindu ini terus menyapa untuk bertaut dengannya." aku berdo'a dalam diam & ketenangan yg telah diproleh sekian lama. Bukan aku tak sabar, namun kesabaran juga ada batas'y. & aku tau itu, tau pula bahwa hasil & upah dari kesabaran itu tiada batas'y. Semoga ia pula memanjatkan do'a yg lebih khusyuk, melebihi hari2 sebelum'y.
Namun tetaplah dia perempuan biasa, begitu perasaan'y, bukan Rabi'ah Adawiyyah yg mampu menyerahkan total rindu'y pada keagungn Illahi, bukan karena apapun di dunia ini, bahkan juga bukan karena surga atau neraka.
"Ya Bashir, Ya Basith. Yg Maha Melihat, Yg Maha Melapangkan".
Adakah tanda-tanda yg selalu hadir di depan mataku ini hanya semata bagi rindu abadi. Jika apa yg telah terjadi selama ini merupakan bagian rahasiaMu, beri aku setitik ilmu untuk membuka atau menutupnya."
Do'aku kepadaMu untk'y serasa angin teduh yg berhembus ke mana saja & dari mana saja arah'y. Angin rindu memang begitu. Siapa makhluk berjiwa di jagat ini yg tak merindukan Tuhan'y. Bahkan, para 'filsuf' yg berknar kalau Tuhan telah mati boleh jadi karena mereka gagal & putus asa memahami Sang Maha Misteri.
Maka, dengar juga kisah 'Qais jadi majenun', terombang ambing angin di gurun sahara antra ada & tiada karena rindu yg menyala. Maka, datanglah di antra rinduku, perantara abadi yg selalu memberi & membacakan ayat2 keindahan dalam dadaku.
Keindahan jagat raya yg terus bergerak & bergerak menuju semesta Yg Maha Memulai. Dan di antra gerak yg satu dg grak yg lain, terbentang jarak bernama 'rindu'. Dan di antra dua rindu selalu ada perantara yg mempertemukan, mempersatukan & menyatukan antra tubuh & ruh, antra lahir & batin, antra akal & pikiran, & suara hati terdalam, sampai cahaya bersinar sepanjang siang & malam, dalam kesunyian maupn di tengah keramaian, menyalakan marhabah rindu, menerangi yg satu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar